Selasa, 28 Oktober 2014

PANTUN





Pantun (Jawi: ڤنتون) merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis. Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).

CIRI-CIRI PANTUN

Dapat dilihat berdasarkan bentuknya. Ciri-ciri ini tidak boleh diubah. Jika diubah, pantun tersebut akan menjadi seloka, gurindam, atau bentuk puisi lama lainnya. Ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut:
  • Tiap bait terdiri atas empat baris (larik).
  • Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata.
  • Rima akhir setiap baris adalah a-b-a-b.
  • Baris pertama dan kedua merupakan sampiran.
  • Baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Pantun mementingkan rima akhir dan rumus rima itu disebut dengan abjad /ab-ab/. Maksudnya, bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat.

JENIS-JENIS PANTUN

jenis jenis pantun berikut dengan sedikit penyesuaian.
Menurut Effendi (1983:29), pantun dapat dibagi menurut jenis dan isinya yaitu:
1.      pantun anak-anak, berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:
a.       pantun bersukacita
b.      pantun berdukacita
c.       pantun jenaka atau pantun teka-teki

2.      pantun orang muda, berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:
a.       pantun dagang atau pantun nasib
b.      pantun perkenalan
c.       pantun berkasih-kasihan
d.      pantun perceraian

3.      pantun orang tua, berdasarkan isinya data dibedakan menjadi:
a.       pantun nasihat
b.      pantun adat
c.       pantun agama


Peran pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata.
Namun, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur pantun
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.


PENJELASAN DAN CONTOH SERTA MAKNA PANTUNNYA

 Berikut merupakan makna dan nilai- nilai luhur yang terkandung dalam pantun nusantara. Penggalian makna pantun dibagi berdasarkan jenis pantun.
1.         Pantun anak-anak, berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:

A. Pantun bersukacita: Pantun yang mengungkapkan perasaan suka cita orang tersebut. Dilontarkan dalam situasi yang suka cita. Dituturkan agar orang yang mendengarnya ikut merasakan suka cita.
Burung merpati burung dara
Terbang menuju angkasa luas
Hati siapa takkan gembira
Karena aku telah naik kelas
Pantun tersebut menggambarkan kegembiraan hati anak-anak yang berhasil naik kelas. Penyampaian pantun itu tentunya dalam suasana yang suka cita. Apabila pantun tersebut dilayangkan, tentu saja membuat yang mendengar merasa turut bersuka cita.

B. Pantun berdukacita: Pantun yang mengungkapkan kesedihan seseorang. Pantun ini juga dilontarkan oleh seseorang untuk menghapus suasana duka cita yang ada.
Memetik manggis di kota Kedu
Membeli tebu uangnya hilang
Menangis adik tersedu-sedu
Mencari ibu belum juga pulang
Pantun tersebut mewakilkan perasaan anak yang ditinggal oleh orang tuanya. Pantun tersebut dilayangkan dalam situasi yang sedih. Biasanya, anak yang ditinggal orang tuanya tentu akan merasa sedih, dan mungkin mereka bisa mengungkapkannya dalam bentuk pantun.

C. Pantun jenaka atau pantun teka-teki: Pantun jenaka atau pantun teka teki merupakan pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung, dan dengan pantun jenaka diharapkan suasana akan menjadi semakin riang.
Pohon mangis di tepi rawa
Tempat nenek tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat kakek bermain gundu
Masyarakat terdahulu menggunakan pantun sebagai media pelipur lara atau menia hiburan. Dapat dilihat dari pantu tersebut, tujuannya juga untuk menambah keakraban penutur dengan pendengarnya.

2.      Pantun orang muda, berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi:

A. Pantun dagang atau pantun nasib: Pantun dagang atau pantun nasib merupakan rangkaian kata-kata yang merefleksikan nasib atau keadaan seseorang. Pantun ini biasanya dinyanyikan/dibacakan oleh orang-orang yang berada di perantauan jika mereka ingat akan kampung halamannya atau nasibnya yang tak seberuntung temannya.
Tudung saji hanyut terapung
hanyut terapung di air sungai
Niat hati hendak pulang kampung
apa daya tangan tak sampai

Pantun diatas menggambarkan bagaimana orang yang merantau, berada jauh dari kampung halamannya, sangat merindukan kampungnya. Disini tergambar bahwa masyarakat daerah merantau untuk mencari uang ataupun belajar, jauh dari keluarga, namun mereka tak lupa dengan tempat asal mereka. Mereka bertahan di tempat rantau demi mencapai tujuan.



B. Pantun perkenalan: Pantun yang berisi ungkapan untuk mengenal seseorang dan ucapannya berupa pantun.
Dari mana hendak kemana
Manggis dipetik dengan pisau
Kalau boleh kami bertanya
Gadis cantik siapa namamu
Pantun tersebut menggambarkan bagaimana keinginan seseorang untuk berkenalan dengan orang yang ditemuinya. Dalam hal ini, kearifan local yang dapat ditemui yakni masyarakat sangat gemar membuka tali pertemanan, suka mengenal satu sama lain. Apabila ia bertemu dengan seseorang yang menarik perhatiannya, ia akan menanyakan hal awam untuk menjalin tali pertemanan, agar mereka menjadi lebih akrab.

C. Pantun berkasih-kasihan: Pantun yang berisi ungkapan yang ditujukan pada orang yang dicintainya.
Jalan lurus menuju Tuban
Terus pergi mengangkat peti
Badan kurus bukan tak makan
Kurus memikir si jantung hati
Pantun tersebut dituturkan oleh seseorang kepada pasangannya. Pantun berkasih-kasihan berisikan hal yang ingin diungkapkan kepada pasangan, atau pun sebagai sarana untuk merayu pasangannya. Pantun tersebut menggambarkan rasa cinta seseorang terhadap pasangannya dan membuat ungkapan yang berlebihan bahwa badannya kurus karena memikirkan kekasihnya. Hal tersebut tentunya akan membuat sang kekasih merasa tersentuh dan kenambah keharmonisan hubungan.

D. Pantun perceraian: Pantun yang berisi ucapan perpisahan atau perceraian. Pantun ini dilontarkan ketika kedua pasangan sedang memiliki masalah dan mungkin berniat untuk berpisahataupun diputuskan hubungannya.
Jaga tugu di tengah jalan
Menjala ikan mendapat kerang
Tega nian aku kau tinggalkan
Hidup di dunia hanya seorang
Pantun perceraian tersebut menggambarkan kegundahan seseorang karena ditinggal oleh pasangannya.
3.      Pantun orang tua, berdasarkan isinya data dibedakan menjadi:

A. Pantun nasihat:  Rangkaian kata-kata yang mempunyai makna mengarahkan atau menegur seseorang untuk menjadi lebih baik.Pantun nasehat dari jaman ke jaman mengalami perkembangan, pada awal mulanya pantun hanyalah karya lisan yang spontan terucap dari orang yang kreatif.
Bau paku sedin telabah
Buaq randu masak odaq
Pacu-pacu pada sekolah
Jari sangu sak uwah toak

Memetik paku dekat selokan
Buah kapuk matang muda
Rajin-rajinlah bersekolah
Jadi bekal ketika tua


B. Pantun adat:  pantun yang menggunakan gaya bahasa bernuansa kedaerahan dan kental akan unsur adat kebudayaan tanah air. jenis pantun ini bertutur lebih kepada kearifan lokal dimana pantun adat tersebut beredar,masing masing daerah di Nusantara ini pasti memiliki pantun adat yang berbeda beda.
Menanam kelapa di pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah

Pantun tersebut jelas menggambarkan adat istiadat melayu dimana hukumnya berujung atau bermula dari kitabullah atau alquran. Kearifan local yang terkandung yakni tentang aturan adat yang bertumpu pada alquran. Sebagian besar orang Indonesia memeluk agama islam. Aturan adat yang ada tentunya merujuk pada ajaran islam. 

C. Pantun agama: pantun yang didalamnya mengandung kata-kata nasehat atau petuah yang memiliki makna mendalam sebagai sebuah pedoman dalam menjalani hidup, yang biasanya berisi kata kata yang bisa mendorong kita untuk berbuat yang tidak melanggar aturan agama baik untuk kepentingan diri maupun bagi orang lain.
Aqu lalo beli tembage
Te ngadu ngelim parang
Lamun mele tame surge
Girang-girang ngaji sembahyang

Saya pergi beli tembaga
Saya pakai untuk merekatkan parang
Apabila ingin masuk surga
Sering-sering mengaji dan sembahyag

            Dari baris pertama dan kedua memiliki keterhubungan yang saling berkaitan. Keterhubungan antara baris pertama dengan baris kedua sangat erat, karena pada baris pertama menjelaskan mengenai apa yang digunakan, sedangkan baris kedua menjelaskan mengenai sebab. Sehingga sampiran pada lelakaq ini merupakan keterhubungan sebab-akibat antara baris pertama dan baris kedua.
            Selanjutnya pada isi lelakaq kalimat pada baris ketiga berbunyi “lamun mele tame surge”. Apabila dilihat secara kata perkata, maka kata ”lamun” berarti kalau, kata “mele” berarti ingin, dan kata “surge” berarti surga. Dari kata tersebut maka arti seluruhnya pada kalimat di baris ketiga ini adalah “ kalau ingin masuk surga”. Kata-kata tersebut dapat dilihat dari artinya akan memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Dari hal tersebut maka akan lebih mudah untuk menggali makna sebenarnya dari kalimat lelakaq pada baris ketiga ini.
            Dan kalimat pada baris keempat pada lelakaq tersebut berbunyi “girang-girang ngaji sembahyang”. Apabila diartikan secara kata-perkata, maka kata “girang-girang” berarti sering-sering, kata “ngaji” berarti membaca Al-Quran, dan kata “sembahyang” dapat berarti sholat. Maka apabila diartikan secara sepenuhnya maka dapat diartikan “ sering-sering membaca Al-Quran dan sholat. Kalimat tersebut sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh kalimat pada baris ketiga tersebut. Sehingga dari hal tersebut maka secara arti kata maka kalimat pada baris ketiga dan keempat sesuai dan saling berhubungan.
Kearifan lokal yang terkandung dalam Lelakaq ini jelas sekali mengenai ajaran agama. Pesan yang terkandung yaitu apabila kita ingin masuk surga, sering-seringlah kita mengaji (Membaca Alquran) serta Sembahyang (Shalat lima waktu dan shalat sunnah). Dari lalekaq tersebut jelas sekali terlihat bahwa masyarakat sasak sebagian besar merupakan pemeluk agama yang kuat. Mereka menanamkan nilai-nilai agama dalam banyak pantun mereka. Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.

Kamis, 23 Oktober 2014

upacara adat jawa



1.GREBEG SURO

Grebeg Suro yaiku Upacara Tradisional masyarakat Ponorogo kang wujudake acara rakyat.Seni lan tradisi sing ditampilake kaya Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel. Grebeg suro termasuk acara tahunan kang dirayaakeben tanggal 1 Muharram (1 Suro tahun Jawa). Acara iki yo termasuk  kegiatan sing disik kanggo  nyongsong Tahun Kunjungan Wisata Jawa Timur ben tahun.
Rangkaiane Grebeg Suro kayata,prosesi nyerahake pusaka ning makam bupati kepisan ing Ponorogo.Sakwise kuwi disusul pawai atusan uwong tekan pusat kota karo numpak bendi lan jaran seng dihiasi .Sakwise neh ngadaake Festival Reog Nasional ing alun-alun kota.

2. KHITANAN
Khitanan utawa Sunat ing basa arabkhitan uga bisa kasebut uga sirkumsisi (Inggris: circumcision) yaiku tumindak motong utawa ngilangake salah sijiné bageyan utawa kabeh kulit panutup saka palanangan. Frenulum saka palanagan bisa uga dipotong sacara bebarengan ing sakjroning prosedur kang asring karan jeneng . Tembung sirkumsisi kanthi asal usul saka basa Latincircum (kang ngandut arti "muter") lancaedere (artiné "motong/ngètok").
SajarahKhitan uga diwiwiti ing jaman prasejarah, wujud mangkana iku bisa dibuktekake dèning salah sijiné gua kang ana ing mesir awiwit jaman watu lan pasarenaMesir purba.[1] Alesan tumindak iki isih digambyarake ing mangsa iku kanthi irah-irah kang ana lan teori-teori kang njelasake tumindak khitanan utawa sunat iku bageyan saka ritual pangorbanan utawa ngelakoni sunnah rosul (mangsa baliq).Ing pandhudhuk asring kasebut dèening mangsa tumuju kadewasa utawa ing donya kasehatan bisa uga kasebut mangsa pangubahan estetika utawa seksualitas.

3. MENDHEM  ARI-ARI
Mendhem ari-ari iku salah sijining upacara kelairan sing umum diselenggarakake malah uga ana ning dhaerah-dhaerah (suku-suku) liya. Ari-ari iku perangan penghubung antara ibu lan bayi wektu bayi isih ning njero rahim. Istilah liya kanggo ari-ari yaiku: aruman utawa embing-embing (mbingmbing).
Ing Jawa ana kapercayaan sedulur papat, kakang kawah adhi ari-ari, ibu bumi, bapa angkasa.Wong Jawa percaya yen ari-ari iku sejatine salah siji sedulur papat utawa sedulur kembar si bayi mulane ari-ari kudu dirawat lan dijaga umpamane enggon kanggo mendhem ari-ari iku diwenehi lampu (umume senthir) kanggo penerangan, iki dadi simbol "pepadhang" kanggo bayi. Senthir iki dinyalakake nganti 35 dina (selapan).
Tata cara: Ari-ari dikumbah nganti resik dilebokake ning kendhi utawa bathok kelapa. Sadurunge ari-ari dilebokake, alas kendhi diwenehi godhong senthe banjur kendhine ditutup nganggo lemper sing isih anyar lan dibungkus kain mori. Kendhi banjur digendhong, dipayungi, digawa ning papan penguburan. Papan penguburan kendhi kudu ning sisih tengen pintu utama omah

4. NANDUR PARI(NGURIT)
Beras dadi kabutuhane masyarakat, mula ya ora nggumunake manawa ora sethithik beras kang kudu dicawisake.Dene kang kajibah nyukupi beras ora liya para among tani, srana nggarap sawah nandur pari. Mungguh kaya ngapa lan kepriye carane nindakake nggarap sawah, mbok manawa na becike yen diandharake sawatara, wiwit gawe winih tumekane panen. Dhek jaman biyen, nalika irigasi durung tumata, sadurunge ngancik ngolah lemah padha nganggo petungan mangsa. Dene mangsa kang diugemi yaiku mangsa kanem lan uga ngungak lintang luku kang wis katon manjer ing sisih wetan. Lumrahe pangolahe lemah kawiwitan gawe pawinihan.Gawe winih mono ana kang nganggo ngurit/nyebar.Cara-cara iku kajumbuhake karo kahananing lahan.Yen ing sawah kono banyune angel, adate katindakake kanthi ngurit.Ngurit yaiku ndhedher wiji pari kang isih wulen, dene kretegan yaiku pari kang disebar garingan tanpa dilebi banyu.Kekarone wiji pari iku kadhedher ana ing lemah garing. Dene nyebar, wiji didhedher ing lemah teles, wujud gabah kang wis nokol/thokol. Sinambi ngenteni gedhene winih, Pak Tani nuli nggarap sawah.Sawah dilebi nuli diluku, luwih dhisik sawah disukoni, yaiku maculi pojok-pojoking sawah kang ora bakal kaambah dening luku. Nyukoni iku bisa uga katindakake sawise diluku, Bakda iku, lemah dilebi lan dileremake sawatara sina supaya suket lan gegodhongan padha bosok dadi lemi. Tindak mangkono iku arane didhayungake. Sinambi ngenteni anggone ndhayungake, lumrahe pak tani nampingi utawa nembok galengan supaya ora padha bolong, bisa wutuh, rapi lan rata. Sawise cukup anggone ndhayungake, lemah dilumahake, tegese digawe rata srana digaru. Kanthi mangkono brongkalan-brongkalan lemah padha ajur, satemah lemah dilawet dadi leleran. Yen wis mangkono lahan siap ditanduri. Supaya tandur bisa tumata larikane, katon runtut, luwih dhisik nancepake kepala, yaiku tancepan tandur kang bakal dadi panutan. Kanggo rerangken tandur, ora lali dicawisake sesaji kanggo panuwun lan panyuwun marang Gusti. Sawise dipasrahake nganggo didupani, sajen banjur dikepung sing padha arep tandur, lumrahe para wanita. Piranti sing kanggo tandur yaiku wilah sing diwenehi tetenger kang padha elete. Piranti iki diarani klathakan utawa blak.Blak ditrapake manut kepala, nuli saben tetenger ditancepi winih.Mangkono sabanjure lumaku mundur.Watara setengah sasi tandur wiwit ijo, mracihnani yen urip, diarani nglilir.Watara umurt sesasi diwatun utawa digosrok. Kajaba kanggo ngilangi suyket sing ngganggu, uga duwe tujuan nggemburake lemah. Bakda iku tandur dirabuk.Ora antara sasi tandur dadi ijo royo-royo, gumadhung. Tandur mekar, mundhak gedhe lan dhuwur. Ora suwe maneh mlecuti, siji loro katon wulene.Dene yen wulen par iwis jumedhul kabeh, arane mrekatak. Bakda iku wulen kang mentes padha tumungkul, dene sing gabug padha ndangak. Saya suwe pari saya kuning. Yen wis mangkono becike sawah disat supaya nyepetake pari padha tuwa. Sawise sesaji wiwitan dileksanani, pari banjur dipanen. (Kiriman Sdwijosusastro)

5. UPACARA RUWATAN 
Ruwatan iku salah sijining upacara adat Jawa sing ancase kanggo mbebasake wong komunitas utawa wilayah saka ancaman bebaya. Inti upacara ruwatan iki sejatiné arupa ndonga, nyuwun pangayoman marang Gusti Allah saka ancaman bebaya-bebaya umpamanébencana alam lan liyané, uga ndonga nyuwun pengampunan dosa-dosa lan kesalahan-kesalahan sing wis dilakoni sing isa nyebabaké bencana. Upacara adat iki asalé saka ajaran budaya Jawa kuna sing sifatésinkretis sing saiki diadaptasilan disesuaiké karo ajaran agama.
Maknane Ruwatan sejatine reresik diri saka sakehing dosa lan panggawe ala, ngedhekake rasa panembah marang Gusti kang akarya jagad dimen rahayu uripe. Tembung "Ruwat" uga ateges "bebas" saka sakehing goda,coba lan rencana, bebendu, dosa lara lan sapanunggalane. Ruwatan iku salah sijining upacara adat Jawa sing tujuwané kanggo mbébasakéwong, masarakat utawa wewengkon saka ancaman bebendu. Inti upacara ruwatan iki sejatiné ndonga, njaluk pangayoman marang Gusti Allah saka ancaman bebendu umpamané bencana alam lan liyané, uga ndonga njaluk pngampunan dosa-dosa lan kesalahan-kesalahan sing uwis dilakoni sing bisa njalari bencana.lan dingo tulak bala ana ing sawijining desa,

6. PENGANTENAN
Upacara pengantenan adat Jawa iku salahsijining upacara sakral adat Jawa sing nduwe
rangkeyan-rangkeyanupacara lan tata cara singwis pakem. Upacara pengantenan iki
ngelambangake pertemuan antara pengantenputri lan penganten kakung neng suasana singkusus lan dilambangake dadi pasangan raja lan
ratu.Rangkeyan inti upacara umume diselenggaraake
neng daleme penganten putri, dadi sing dadipenyelenggara utawa tuan umah yaiku wongtuautawa kaluarga penganten putri ning tetepdibantu kaluarga penganten kakung.
Rangkeyan upacara-upacara pengantenan adatJawa iku seje-seje miturut dhaerah uga
diselenggaraake sesuai kemampuan ekonomisosial kaluargane.




Upacara-upacara penganten adat Jawaantarane:
o    Lamaran pengantenan
Upacara lamaran iku upacara kanggo nrimakaluarga calon penganten kakung neng dalemecalon penganten putri. Upacara iki dadi tanda yenwongtua utawa kaluarga manten putri setujuyen putrine didaeake pasangan urip calon
penganten kakung.Neng acara lamaran iki biasane sekalian kanggonentokake dina utawa tanggal penyelenggaraanrangkeyan upacara lanjutane, utamane tanggalpesta penganten.
o    Siraman
Acara siraman iku sejati upacara perlambangkanggo ngresi'ake jiwa calon penganten. Upacaraiki diselenggaraake sedina sedurung ijab kabullan dilakokake neng umah masing-masing calonmanten, umume neng bagian umah sing radhaterbuka kaya neng halaman mburi umah utawaneng taman ngarepan umah. Sing nyirampertama biasane wong tua calon manten banjursedulur liyane uga pemaes.
o    Midodaren
Tembung midodaren iku asale saka basa Jawayaiku widodari utawa bidadari neng basa
Indonesia. Acara iki ngandung makna yen mbengisakdurunge acara pengantenan iku, kabeh parawidadari mudhun saka suwarga kanggo awehpengestu uga kanggo pralambang yen sesuk nengacara utama, penganten putrine bakal ayu kaya
widodari.Neng acara iki penganten putri ora metu sakakamar wiwit jam 6 sore nganti tengah wengi landikancani dening sedulur-sedulur putrine singngancani sinambi aweh nasihat.Rangkeyan acara neng wengi midodaren iki seje-seje neng saben dhaerah, kadhang ana singbarengake karo acara peningsetan lan srahsrahan.
Srah-srahan iku disebut ugo "asok tukon" yaikupihak kakung nyerahake uba rampe lan biaya singbakal kanggo ngleksanakake pesta pengantenan.
7. SELAMETAN
Selametan yaiku tradisi ritual  sing  di lakok ne masyarakat sing wujud te ngundang tangga-tangga,sing di awali donga bareng-bareng karo lungguh silo ing kloso ngubengi sego tumpeng.Slametan  kuwi dilakokne kanggo ngrayakne kabeh kedadean contone,kelahiran,kematian,mantu,pindah omah,lan laine. Geertz ngelompokne slametan cacahe ana 4,yaiku:
1.                  Seng kaitane karo keuripan kaya:kelahiran,khitanan,mantu lan kematian
2.                  Kaitane karo kedadean perayaan islam
3.                  Kaitane karo ngresiki desa
Kaitane kedadean seng ora biasa kaya budal nang perjalanan seng adoh,pindah omah,ngubah jeneng,ngobati loro,ngobati pengaruh gaib lan laine.

8. SEPASARAN
Sepasaran iku salah sijining upacara adat Jawawektu umur bayi 5 dina .Upacara adat ikiumume diselenggaraake sederhana ning yenbebarengan karo aweh jeneng bayi, upacara ikidiselenggaraake radha meriah.Tembung sepasaran dhewe asale sake tembungsepasar .Sepasaran umum diselenggaraake sorenganggo acara kenduren lan ngundang seduluruga tangga umah. Suguhan sing disajiakeumume wedang lan jajan pasar ning uga anabesek sing umum kanggo ditentengan mulih.

9.     GREBEG SAWAL
Grebeg Sawal ugi dipunsebat grebeg pasautawi grebeg bakda. Dipunwastani grebeg
sawal amargi upacara grebeg punikadipunadani ing wulan sawal. Ancasdipunwontenaken grebeg sawal punika inggihingkang sepisan kangge ngurmati wulan suciRamadhan. Bilih wonten ing wulan kasebat,umat Islam dipunwajibaken siyam sesasi natas.Ancas ingkang kaping kalih inggih kanggengurmati malem lailatul qadar utawi ingkangasring winastan maleman utawi selikuran.Keraton ngawontenaken maleman/selikuranminangka upacara kerajaan ingkangdipunadani saderengipun garebeg sawal/pasa.Pisowanan selikuran punika dipunadani sabentanggal 21 wulan Ramadhan. Adicara punikadipunwiwiti nalika jumeneng nata Sri SultanHamengku Buwono I ingkang salajengipundipundadosaken tradisi kaliyan sultan-sultan
panerasipun. Nalika jumenengipun Sri SultanHamengku Buwono VIII (1921-1939) tata
upacara punika dipundamel langkung gampil lanupacara maleman punika dipunicalakenkawontenanipun nalika jumenengipun SriSultan Hamengku Buwono IX .
Dumugi warsa 1941, wonten ing upacaragrebeg pasa punika taksih dipunwontenaken
ugi upacara pisowanan grebeg minangka adatkeraton wonten ing Sitihinggil . Lan,
minangka salah satunggaling tradisi wontening grebeg pasa punika boten dipunwontenakenadicara tilik ing Mesjid Gedhe Ngayogyakartakaliyan sultan saha para abdinipun. Anangingminangka gantosipun, sultan ngawontenakenpasowanan ngabekten wonten ing BangsalKencono . Tradisi ngabekten punika dipunadanisaben tanggal 1 Sawal lan nalika jumenengipunSultan HB IX adicara punika dipuntindakaken
kanthi ringkes. Sultan boten malih lenggahwonten ing singgasana emas (dhamparkencana) saha boten ngagem busana keprabon.

10. BROKOHAN
Brokohan utawa barokahan iku salahsijiningupacara adat Jawa kanggo nyambut kelairanbayi. Upacara adat iki nduwe makna ungkapansyukur lan sukacita amarga proses klairan ikuslamet.Brokohan iku asal tembunge saka basa Arabyaiku "barokah" sing maknane ngarepakeberkah. Tangga teparo ya iku mliginé para ibuing saubengé diaturi rawuh malah kerep tanpadiaturi rawuh padha nyambangi kulawarga singlairan saperlu ngucapaké rasa mèlu bungah,biyasané kanthi nggawa bingkisan arupawedhak, sabun , kopi , gula lan sapanunggalané.Sing tumindak minangka pangarsa adicara
Brokohan iki ya iku Dhukun Bayi . Sesajènupacara sing dibutuhaké ya iku:
Tumrap golongan bangsawan: dhawet ,endhog mentah, jangan menir, sega ambeng ,
sega karo lawuh, jeroan kebo, pecel karo lawuhayam, kembang setaman, klapa lan beras .golongan rakyat biyasa: sega ambengan singdumadi saka sega jangan, lawuh pèyèk, sambelgorèng , témpé , mihun, jangan menir lan pecelayam.
Upacara nyenyuwun supaya bayi dadi bocahsing apik sing diwiwiti kanthi mendhem ari-arilan nyadiakaké sesajèn brokohan sing didummarang para tangga.Angkah :Upacara brokohan tujuwané kanggo keslametanprosès kelairan uga pangayoman kanggo bayi,kanthi pangarep-arep supaya bayi sing lairbisa dadi bocah sing apik.

11.TINGKEPAN
Tingkepan yaiku tata cara lan tata upacara masyarakat Jawa sing dilaksanakake wektu kandutane wong wanita umur pitung sasi lan mbobot sing sepisanan. Tingkepan kasebut uga mitoni. Pelaksanaane tingkepan biasane dilaksanakake miturut itungan neptu (dina lahir lan pasaran calon ibu lan calon bapak tuladha dina Senin pasaran Pon) kanggo nggolek wektu sing dianggep tepat, keadaane calon ibu lan uga soko kepraktisan. Peralatan ( hal sing mendukung pelaksanaane tata upacara tingkepan) sing digunakake akeh lan nduweni makna simbolis. Peralatan kasebut yaiku pengaron (tampah banyu), toya suci perwita sari (air suci yang diambilkan dari tujuh sumber), sekar setaman (bunga mawar, melati, kantil lan utawa kenanga), nyamping (kain jarit) pitu jenis (yaiku motif sidomukti, truntum, udan riris lan sing wajib kudu ana yaiku motif dringin) lan mori (salembaran kain putih). Peralatan sing liya kursi chilik (dhingklik), daun kluwih, alang-alang dan kapa-kapa, klasa bangka (klasa soko anyaman godhong pandan), janur kuning, keris lan kunir, ndog pithik, kambil gading sing nom, klenthing, pithik lan kurungan, siwur (gayung banyu soko batok kambil ora diilangi kelapane), rujak lan dhawet. Ing buku iki tegese simbolis peralatan kasebut diterangkake nganggo cara sederhana tapi jelas lan gampang dimangerteni. Piranti (miturut sing nulis kanggo ngganti tembung sesaji amarga sesaji nduweni nuansa aninisme lan dinamisme) tingkepan akeh lan uga nduweni teges simbolis. Piranti kasebut yaiku tumpeng pitu karo lawuhe, tumpeng robyong lan tumpeng gundul, ndog penyu (digawe soko ndok pitik pit sing diwarnai abang), jenang procot, clorot, sekul punar (sega kuning), jenang (yaiku jenang abang, jenang putih, jenang abang putih, jenang palang putih, jenang palang abang, jenang baro-baro abang, jenang baro- baro putih, jenang sungsum lan bubur sungsum, jenang lare), tumpeng damar, pring sedhapur (ruas pring cilik pitu sing ditali), babon angrem, pasung, kupat pletek, apem, cenil lan klepon, srinthil thiwul, kacang panjang, lobak, kubis, lembayung, nasi gurih lan buah-buahan. Sawernane piranti kasebut ing buku iki sanajan ora jelas disebutake bahan lan bentuk. Tuladha jenang procot digawe soko glepung beras sing dimasak lan diwenehi gula. Ing bagian tengah diwenehi gedhang utuh sing dimasak dhisik. Yaiku jenang procot karo pangarep jabang bayi lahir (mrocot) cepet, lancar lan slamet ibu karo bayine. Proses upacara tingkepan soko pambuka (dilaksanakake karo pembawa acara, sambutan sugeng rawuh lan ucapan matur suwun kanggo tekane para tamu, diterusake upacara inti tingkepan yaiku sungkeman, siraman, sesuci, pecah pamor, brojolan, sigaran, nyampingan, luwaran lan simparan, wiyosan, kudangan, bubukan, kembulan lan unjukan, kukuban, rencakan, rujakan lan dhawetan. Sawise upacara inti rampung bisa diterusake karo mangan bareng lan acara terakhir yaiku penutup. Proses upacara tingkepan ing buku iki diuraiake cukup jelas. Upacara tingkepan menehi ucapan matursuwun, donga lan pangarep marang gusti allah.

12. BERSIH DESA
Bersih desa iku salahsijining upacara adatJawa sing diselenggara'ake bubar panen paridadi maksude kanggo ngucapake syukurtandhuran pari brasil dipanen lan kasile apik.Upacara adat iki kadhang uga diarani upacaramreti desa lan biasa digabung karo upacaraadat sedekah bumi utawa mreti bumi.Masing-masing dhaerah nduwe tata cara lanprosesi upacara sing seje-seje miturutkabiasaan masing-masing ning tujuane padhawae.
1.       Sajarah
Ing jaman mbiyen upacara adat iki dikaitakekaro Dewi Sri sing dianggep sebagai dewi parimerga kebrasilan panen iku kasil kemurahansaka Dewi Sri sing wajib disyukuri.


2.       Tujuan
Kanggo ngucapake syukur marang Tuhansing wis aweh anugrah kasil panen pari sing
MelimpahKanggo njaga keslametan para warga desasaka gangguan hal-hal sing gaib, roh utawaarwah sing gentayangan uga saka gangguan-
gangguan penyakit, keamanan lan bencana.Kanggo ngresi'ake desa lan wargane sakaalangan utawa kesusahan supaya kaadaan desadadi tentrem lan aman.
3.       Prosesi
Prosesi upacara umume diwiwiti bubar panenanpertama utawa methik, lokasi upacaranepertama neng pesawahan sing wis dilengkapikaro ubo rampe antarane: janur kuning ,kembang setaman, kemenyan , kaca, suri,banyu kendhi , jajan pasar , bungkusan sega langedhang . Bubar acara ndonga, pari sing wisdipetik digotong neng lumbung pari. Nenglumbung pari uga wis disiapake perangkatupacara lanjutane sing umume digawe sakagodhong antarane godhong kluwih, dhadhapserep, godhong mojo, godhong tebu, godhongjati uga godhong luh. Masing-masing godhongiku nduwe fungsi lan makna.

13. NYADRAN
Nyadran iku salah siji prosèsi adat budhayaJawa awujud kagiyatan setaun sepisan ing sasiRuwah wiwit saka resik-resik saréan leluhur,mangsak panganan tertamtu kaya déné apem ,ater-ater lan slametan utawa kenduri . Jenengnyadran iki asalé saka tembung sraddha ,nyraddha, nyraddhan , banjur dadi nyadran. PJZoetmulder ana ing buku Kalangwan uganyritakaké bab upacara sraddha kanggomèngeti sédané Tribhuwana Tungga Déwi anaing taun 1350 .Upacara sraddha minangkapèngetan raja-raja síng wís puput yuswa ugasinebut ing kidung Banawa Sekar, nganggo ubarampé wujud baita (prau) síng digawé sakakembang (puspa, sekar).Tradhisi nyadranpranyata wís lumaku wiwít jaman Majapahitnganti saiki. Pakurmatan kanggo leluhur isihlestari lan dipepetri déning masarakat, mliginéing tlatah padésan. Nyekar ing sasi Ruwahnduwèni surasa utawa wulangan marang anakputu supaya padha tresna lan élíng marang
leluhur.

14.TEDHAK SITÈN
Tedhak sitèn utawa tedhak siti iku salah sijiupacara adat Jawa kanggo bocah umur 7 wulanutawa 6 lapan. Upacara iki ing dhaérah liyaing Nuswantara uga ana, contoné sing diaraniupacara injak tanah ing dhaérah Jakartadéning suku Betawi utawa uga ana singngarani "mudhun lemah" lan "udhun-udhunan".
Tedhak sitèn iku asalé saka tembung tedhak,idhak utawa mudhun lan sitèn (saka tembungsiti) utawa lemah (bumi). Upacara iki kanggoperlambang bocah sing siap-siap njalani uripliwat tuntunan wong tuwa landiselenggarakaké yèn umur bocah wis 7 selapanutawa 245 dina (7 x 35 = 245).
Sebabe Dianakaké:
Upacara Tedhak sitèn dianakaké amarga anakapitayan masyarakat Jawa yèn lemah kuwinduwéni makna ghoib lan dijaga Bathara Kala .Kanggo ngindari kadadéyan sing ora becik,mula dianakaké upacara ngenalaké putra-putriné marang Bathara Kala minangka singnjaga lemah. Anggone nglakoni upacara iki,luwih becik miturut weton .
Ubarampé Upacara TedhakSitèn :
Ubarampé kanggo upacara tedhak sitèn akèh,
kayata:Pengaron sing diisi kembang setaman .Kurungan, kanggo nggambaraké yén donyané
anak isih sithik utawa ciut.Werna-werna barang sing diséléhakésajroning kurungan kang nggambaraké suwènéurip, manungsa duwé kawajiban nggolèk"nafkah", kayata:
1. Pari sabengket
2. Kapuk sabengket
3. Piranti nulis
4. Bokor kang diisi beras kuning
5. Werna-werna jinis dhuwit
6. "Perhiasan"


1.       Klasa sing isih anyar, kanggo lémèk ningjeroning kurungan.Bakaran pitik, kang nggambaraké pedomanuripé anak.
2.       Tangga tebu "arjuna", yaiku tebu singwernané ungu kang nggambaraké undhak-undhakané urip sing arep dilakoni anak.
3.       Jadah pitung werna, yaiku abang , putih ,ireng, kuning , biru, ungu lan jambon. Tegesékanggo ngemutaké anak yén urip kudu waspadasaka godaan werna-werna.
4.       Bancakan, kayata sega gudhangan singdibagékake marang para tamu sing teka.
Urutané upacara tedhak sitèn :
o    Tedhak jadah pitung warna: yaiku anakmlangkah utawa ngidak jadah pitung warna
kang diréwangi ngidak déning ibu, jadah ditatasaka warna sing padhang nganti warna singpeteng, iku kabèh perlambang déné urip iku oragampang nanging kabéh alangan singdirasakake mengko mesthi bakal ana dalan kangpadhang tumuju kamulyan lan kasantosan.Munggah andha tebu arjuna: tebu ikupralambang antebing kalbu, supaya anggonénitih urip ning donya iki bakal manteb lan tebuarjuna pralambang supaya anak sing munggahtebu iku bisa duwéni solah bawa kaya déné
arjuna.
o    Kurungan: kurungan iku pralambang urip ingdonya iki, ing jero kurungan diwénéhi akèhdolanan lan ubarampé pagawéan kayatakertas, gunting , pethèt lan liya liyané, dolananutawa ubarampé pagawéan sing dipilih déninganak iku kaya tandha bésuk bakal duwénipagawéan mau.
Siraman: kanggo nyucèni raga lan jiwa,muga muga bisa gawa jeneng arum kanggokaluwarga kayata banyu kembang sing kanggoacara siraman anak mau.

15. AQÉQAH
Miturut etimologi, tembung Aqéqah punikaasalipun saking basa Arab , ingkang anggadhahipangertosan nugel utawi motong . Miturutistilah, aqéqah inggih punika nyembelèhwedhus wonten ing dinten kapitu saking dintenklairanipun bayi , minangka raos sukurdhumateng Gusti Allah SWT . Ananging ugiwonten ingkang paring pangertosan menawiaqéqah punika nugel rikma ingkang wonten ingmustakanipun bayi ingkang nembé lair. Kanggébayi ingkang jaler dipunsembelèhaken wedhuskalih, manawi bayi ingkang putridipunsembelèhakenwedhhus setunggal.